Tidak Ada Lagi “All You Can Eat” Di Ramadhan Kali Ini. Berani?

Bisa jadi saya seorang, atau bisa jadi kita semuanya, yang over excited dengan promo All You Can Eat saat bulan Ramadhan. Suatu hari, saya pernah mencobanya sekali. Bagi orang-orang yang sangat perhitungan, tentu dia tidak mau rugi dengan uang yang dia keluarkan. Akhirnya dia menumpuk banyak sekali makanan di mejanya, tapi sayangnya, apa daya melebihi batas kapasitas perutnya. Yang terjadi makanan yang sudah diambil, terbuang begitu saja. Saat itu saya belum seberapa aware dengan permasalahan lingkungan akibat food waste ini. Dalam benak saya, melihat begitu banyak makanan yang tidak sempat dimakan, menimbulkan satu pertanyaan; apakah restoran All You Can Eat ini punya sistem pengelolaan sampah makanan yang cukup baik ya?

Semakin kesini, saya semakin tau, ternyata sampah makanan menjadi penyumpang permasalahan lingkungan yang tidak bisa dianggap sepele. Bukan sekedar menghindari “mubadzir”. Faktanya, sampah makanan tidak seharusnya dibiarkan bercampur dengan sampah non-organik (yang tidak bisa membusuk), karena pencampuran ini akan menghasilkan limpasan cairan beracun Leachate yang mendorong pertumbuhan organisme berbahaya. Tingkat toksitasnya yang tinggi membuat cairan beracun ini menjadi ancaman utama kesehatan air tanah. Dengan kondisi air sungai di Indonesia yang sebagian besar sudah tercemar level berat, masyarakat sudah tidak bisa mengandalkan sumber air bersih dari sini. Ujungnya, masyarakat bergantung pada sumber lainnya, misalnya air tanah. Lah? Bisa dibayangkan dong sampe sini, dari promo All You Can Eat yang tampak menggiurkan itu, bisa berujung menyulitkan hajat hidup orang banyak.

Promo All You Can Eat yang sering menjebak kita untuk membuang sampah organik berulang kali. Sumber: Little Rebellion

Siapa yang biasanya suka bilang “Gak papa ah, ini kan sampah organik. Pasti terurai nantinya”.

Oke, sekarang jadi tahu ya! Bukan masalah “organik” saja, tapi ketika sampah makananmu sampai di TPA, otomatis akan bercampur dengan sampah non-organik, nah disitu yang menjadi permasalahan umat.

Belum lagi jika membahas pencampuran sampah organik dan non-organik yang tinggi akan melepaskan gas metana atau CH4, yang disinyalir 25 kali lebih berbahaya dari karbon dioksida. Tentu saja ini semakin meningkatkan emisi gas rumah kaca dan berujung ke isu kompleks, yakni pemasanan global, menciptakan perubahan iklim, sampai kepunahan banyak spesies flora dan fauna.

Kembali lagi ke promo All You Can Eat yang tentu akan sering kita temui menjelang bulan Ramadhan ini. Permasalahan sampah makanan dari maraknya bentuk promo ini bukan hanya pada sisa makanan yang terbuang. Tapi juga dari perilaku konsumtif kita yang menjadi-jadi karena kebebasan mengambil makanan sesuka hati. Maka, tidak heran jika di bulan Ramadhan, sampah makanan meningkat 10% dari bulan-bulan lainnya. Fenomena ironis karena jika bicara esensi berpuasa, seharusnya kita belajar untuk prihatin dan menahan nafsu untuk tidak berlebihan. Yang kita lakukan justru sebaliknya.

Saat ini, saya tinggal di kota Surabaya. Dibalik geliat perekonomian dan penghargaan lingkungannya, tahu kah kamu, bahwa kota Surabaya adalah penyumbang sampah makanan terbesar kedua di Indonesia? Bahkan, dalam satu bulan, setiap orang di kota ini menyumbang 16 kg sampah sisa makanan. Di kota-kota metropolitan, layaknya Surabaya, permasalahan sampah makanan sudah menjadi isu khusus karena sampah makanan sudah pasti akan menjadi sampah kota. Bandung Food Smart City, sebagai salah satu program bersama memerangi food waste mencatat, dari total 1.477 ton sampah di kota Bandung, 63% atau sekitar 97 ton-nya merupakan sampah sisa makanan. Padahal, kalo ngomong-ngomong soal moral, 25% dari sisa makanan ini dapat mengeyangkan orang-orang kelaparan di kota-kota besar. Jadi, bagi saya, secara moral, sampah makanan adalah hal yang miris dan ironis.

Memang, All You Can Eat dan perilaku kita menyikapinya bukan satu-satunya kambing hitam dalam permasalahan sampah makanan. Faktor lain bisa jadi dari mekanisme distribusi bahan makanan yang terkendala infrastruktur, sehingga menjadikannya busuk di perjalanan dan harus dibuang. Tapi, pada kenyataannya berdasarkan laporan FAO dalam “Food Wastages: Foodprint Impacts on Natural Resources”, sampah makanan pada ranah konsumsi justru memproduksi jejak karbon terbesar dari seluruh elemen rantai pasok pangan. Apa artinya?

Bahwa, meskipun juga saat ini sejumlah restoran sudah menerapkan denda bagi pelanggan yang tidak menghabiskan makanannya, tapi, gaya hidup minim sampah makanan harus dimulai dari skala personal, yakni diri kita sendiri. Percuma, kan, denda begini begitu tapi kita tidak mencoba memberdayakan diri sendiri untuk menambah pengetahuan tentang dampak food waste dan berinisiatif menghentikan kebiasaan buruk konsumsi berlebihan mulai dari diri sendiri? Kesadaran adalah batu loncatan awal.

Tentu, bisa dimulai dari bulan Ramadhan terdekat, yakni bijak mengatur konsumsi makanan All You Can Eat saat Iftar (buka bersama). Jika harus menghadiri acara buka puasa bersama di restoran buffet (All You Can Eat), ambil lah dalam porsi secukupnya. Selalu ingat bahwa setiap makanan yang terbuang bukan sekedar sampah. Ada sumber daya alam/lain (air, minyak bumi, pupuk, lahan, tenaga kerja) yang ikut terbuang, energi yang disia-siakan, sampai dampak lingkungan yang parah, lho! Jadi, bagaimana? Masih berebut mencoba promo All Problem You Can Eat di Ramadhan kali ini? Selamat berpuasa (membuang sisa makanan)! 😊

Leave a Comment

Your email address will not be published.